Artikel

[1] SEJARAH SINGKAT FIQH ISLAM

Di masa hidupnya, Rasulullah adalah sumber ilmu serta sumber pengambilan hukum bagi para sahabat. Tatkala muncul persoalan, mereka kerap bertanya kepada beliau. Di antara mereka ada yang banyak menyerap ilmu dari beliau, dan ada juga yang sedikit.

Ketika Rasulullah menjadi sumber pengambilan hukum, berarti al-Qur`an juga termasuk dari beliau. Sebab, Allah menurunkan al-Qur`an kepada umat manusia melalui perantara Malaikat Jibril dan beliau. Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara al-Qur`an dan hadits, karena keduanya berasal dari wahyu Allah. 

Sepeninggal Rasulullah tahun 11 H, para sahabat pun saling bertukar ilmu. Mereka berdiskusi dan bermusyawarah, hingga tak jarang terjadi perselisihan. Dengan demikian, perbedaan pendapat sejatinya sudah ada sejak masa sahabat. Dekatnya masa mereka dengan masa Rasulullah memungkinkan bagi mereka—secara umum—untuk menyelesaikan suatu perselisihan dengan mudah.

Pada masa Khilafah Rasyidah, terutama Umar (w. 24 H) dan Utsman (w. 35 H), terjadi perluasan wilayah kekuasaan yang cukup masif melalui futûhât. Sebagian sahabat pun berpencar ke berbagai wilayah tersebut guna menyebarkan ajaran Islam. Jika perbedaan pendapat di wilayah yang sama saja bisa terjadi, maka perbedaan pendapat di wilayah yang berlainan sangat bisa terjadi.  

Ketika terjadi perbedaan pendapat di antara sahabat, pihak yang tidak memiliki dasar/dalil dari Rasulullah akan mengalah. Jika masing-masing pihak memiliki dalil, ada kemungkinan kedua pendapat pernah diamalkan atau dibolehkan oleh Rasulullah. 

Ilmu yang golongan sahabat ajarkan diterima oleh murid-murid mereka dari golongan tabi’in. Lalu ilmu yang golongan tabi’in ajarkan diterima oleh murid-murid mereka dari golongan tabi’ tabi’in. Begitu seterusnya.  

***

Di antara golongan tabi’in ada yang ilmunya terjaga karena disebarkan oleh murid-muridnya, seperti Abu Hanifah (w. 150 H) di Kufah. Di antara golongan tabi’ tabi’in juga ada yang ilmunya terjaga karena disebarkan oleh murid-muridnya, seperti Malik bin Anas (w. 179 H) di Madinah. Di antara murid-murid golongan tabi’ tabi’in juga ada yang ilmunya terjaga karena disebarkan oleh murid-muridnya, seperti Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w. 204 H) di Kairo, dan Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) di Baghdad. Merekalah para imam mazhab fiqh yang sampai sekarang masih diikuti. Takdir Allah telah menetapkan bahwa mereka hidup pada masa-masa awal itu, sehingga memperoleh keistimewaan sebagai “mujtahid muthlaq”.

Imam Malik pernah bertemu dan berdiskusi dengan Imam Abu Hanifah. Imam asy-Syafi’i pernah berguru kepada Imam Malik. Imam Ahmad pernah berguru kepada Imam asy-Syafi’i. Perbedaan pendapat tidak lantas memecah belah ukhuwah mereka. Sebab, masing-masing memiliki dalil yang muktabar dan menjunjung tinggi akhlak mulia.       

Semasa mereka, ada para ulama lain yang keilmuan mereka pernah diakui tapi tidak terjaga, karena tidak disebarkan oleh murid-murid mereka.

***

Ilmu para imam mazhab diajarkan dan dibukukan oleh murid-murid mereka, sehingga terjaga dan tersebar dari generasi ke generasi. Meskipun dalam bidang fiqh ada perbedaan pendapat di antara mereka, tetapi dalam bidang akidah—secara prinsipiil—tidak ditemukan adanya perbedaan pendapat. Hanya saja, ilmu akidah mereka tidak terhimpun secara utuh, sehingga tidak dijadikan rujukan utama dalam bermazhab akidah.     

Pada generasi-generasi berikutnya, para ulama yang dikenal ahli dalam suatu bidang ilmu—seperti akidah, tafsir, hadits, bahasa Arab, atau sejarah—tetap mengikuti mazhab fiqh tertentu, karena aktivitas hidup mereka tak bisa lepas dari hal-hal yang telah dikaji dalam ilmu fiqh.

Alhasil, bermazhab adalah suatu keniscayaan. Dengan bermazhab, berarti seseorang telah beribadah berdasarkan dalil-dalil muktabar yang diberlakukan dalam mazhab tersebut; yang sudah diakui serta diikuti selama berabad-abad. Allah telah menakdirkan bahwa mazhab Syafi’i-lah yang tersebar di bumi Nusantara ini, baik melalui lisan maupun tulisan, sehingga umat Muslim Indonesia akan lebih mudah serta maslahat ketika beribadah berdasarkan mazhab tersebut. Tentu tanpa menganggapnya sebagai suatu kewajiban, tapi hanya sebagai “sarana tepat” dalam rangka meraih ridha Ilahi.  

Selogan yang dewasa ini menyerukan untuk “langsung kembali kepada al-Qur`an dan hadits”, sekilas memang tampak indah, tapi hakikatnya tidaklah demikian. Sebab, kemampuan orang berbeda-beda dalam memahami maksud suatu dalil. Seandainya setiap orang langsung berdalil sendiri dengan al-Qur`an dan hadits, berapa banyak “ibadah aneh” yang akan tercipta?! Berapa banyak “mazhab gadungan” yang akan bermunculan?! Dengan membaca “Sejarah Fiqh Islam”, niscaya akan terkuaklah kecacatan ilmiah seruan tersebut. Wallahu a’lam.

Almahira, 04 Februari 2021 M/22 Jumadil Akhir 1442 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *