Artikel

[2] RIWAYAT HIDUP SINGKAT IMAM ASY-SYAFI’I

Secara garis besar, pada masa sahabat—yakni sepeninggal Rasulullah—ada 2 macam metode berpikir dalam memahami dalil atau nash, yang menjadi cikal bakal munculnya mazhab-mazhab fiqh pada masa berikutnya.

Pertama, metode yang cenderung terpaku pada makna zahir suatu dalil. Seiring bergulirnya waktu, para pengguna metode ini dikenal dengan sebutan “ahlul hadits”, yakni ahli hadits. Secara geografis mereka lebih banyak berada di Hijaz, khususnya Kota Madinah.  

Kedua, metode yang cenderung memahami hikmah di balik suatu dalil. Seiring bergulirnya waktu, para pengguna metode ini dikenal dengan sebutan “ahlurra`yi”, yakni ahli akal. Secara geografis mereka lebih banyak berada di Irak, khususnya Kota Kufah.     

Sejatinya, masing-masing pihak tidaklah memisahkan antara fungsi hadits dan fungsi akal. Akan tetapi, persentase kecenderungan-lah yang menjadi pertimbangan dalam pengategorian tersebut. Contoh persoalan yang dibahas dan diperselisihkan oleh ahlul hadits dan ahlurra`yi adalah zakat fitrah: apakah harus sesuai dengan jenis-jenis makanan yang tercantum dalam redaksi hadits atau boleh diuangkan? Ahlul hadits mengharuskan jenis-jenis makanan yang tercantum dalam redaksi hadits, sedangkan ahlurra`yi membolehkan untuk diuangkan karena lebih maslahat bagi penerimanya.   

Di antara ahlul hadits ataupun ahlurra`yi ada yang terlalu ekstrem dalam memahami suatu dalil, sehingga keluar dari ketentuan syariat. Dengan demikian, tidak semua pendapat dari masing-masing pihak layak diterima begitu saja.               

***

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Ghaza. Ayahnya bernama Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa`ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Abdul Muththalib bin Abd Manaf. Artinya, dari jalur ayah nasabnya bersambung kepada paman Rasulullah, yaitu Hasyim bin Abdul Muththalib. Adapun ibunya konon bernama Fathimah binti Abdullah bin al-Husain bin al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Abd Manaf. Artinya, dari jalur ibu nasabnya juga bersambung kepada paman Rasulullah, yaitu Abu Thalib bin Abdul Muththalib.          

Tatkala berusia 2 tahun—dalam kondisi yatim—ia dibawa oleh ibunya ke Makkah. Di sana ia belajar agama kepada para ulama setempat. Guru fiqhnya yang pertama ialah Muslim bin Khalid az-Zanji (w. 180 H) yang merupakan Mufti Makkah kala itu. Tatkala berusia 13 tahun, ia berangkat ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik bin Anas (w. 179 H) serta para ulama setempat lainnya.

Sepeninggal kedua gurunya, Imam Malik dan Muslim az-Zanji, Imam asy-Syafi’i berangkat ke Yaman untuk beraktivitas/bekerja di lembaga pemerintahan Daulah Abbasiyyah, di samping menambah ilmu pengetahuannya. Karena suatu fitnah, pada tahun 184 H ia dibawa ke Ibu Kota Baghdad, Irak, untuk menghadap kepada Khalifah Harun ar-Rasyid (w. 193 H). Namun, tuduhan atas dirinya tidak terbukti, sehingga ia pun dilepaskan. Di sana ia bertemu dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w. 189 H) yang merupakan murid dekat dari Imam Abu Hanifah (w. 150 H). Ia pun berguru kepada Muhammad bin al-Hasan serta para ulama setempat lainnya.   

Imam asy-Syafi’i mengunjungi Baghdad sebanyak 3 kali. Kunjungannya yang pertama tahun 184-189 H, lalu kedua tahun 195-197 H, lalu ketiga tahun 198 H. Karena perannya yang sangat menonjol dalam menyebarkan ilmu hadits di Baghdad, ia pun dikenal sebagai “nashirul hadits”. Dari sana, ia lalu menuju ke Kairo, Mesir.  

Selama di Baghdad, Imam asy-Syafi’i telah menulis sejumlah kitab. Setiba di Kairo tahun 199 H, ia pun menulis kitab-kitab lainnya. Bahkan, ia merevisi sebagian pendapat (baca: masâ`il furû’iyyah ijtihâdiyyah) yang pernah ia nyatakan di Baghdad. Dari sini, muncullah istilah “mazhab lama” dan “mazhab baru” dalam perjalanan hidup Imam asy-Syafi’i.  

Imam asy-Syafi’i menikah pada usia 29 tahun—sepeninggal Imam Malik—dengan seorang perempuan dari anak keturunan Utsman bin Affan bernama Hamidah binti Nafi’ bin Uyainah bin Amr bin Utsman bin Affan dan dikaruniai 3 orang anak: Muhammad, Fathimah, dan Zainab. Imam asy-Syafi’i wafat pada tahun 204 H di Kairo dan dimakamkan di sana.   

***       

Imam asy-Syafi’i mengunjungi Madinah dan Baghdad ketika ilmu/fiqh Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mulai tersebar di awal fasenya. Artinya, kedua imam telah memiliki pengikut di kedua wilayah tersebut. Di sinilah poin plus perjalanan studi Imam asy-Syafi’i. Ia memiliki kesempatan untuk membandingkan dan mengkolaborasikan kedua embrio mazhab (baca: Malikiyyah dan Hanafiyyah) sekaligus kedua madrasah: (1) ahlul hadits yang kebanyakan berada di Hijaz dan (2) ahlurra`yi yang kebanyakan berada di Irak.

Ilmu/fiqh Imam asy-Syafi’i pada fase “mazhab lama” ini terhimpun dalam kitabnya al-Hujjah. Adapun di antara murid-muridnya yang menyebarkan mazhab lamanya di Irak adalah Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Abu Tsaur (w. 240 H), az-Za’farani (w. 260 H), dan al-Karabisi (w. 248 H).        

Dalam perjalanan dari Baghdad ke Kairo, ia tentu menempuh jalur Syam yang memungkinkannya untuk bertemu dengan murid-murid Imam al-Auza’i (w. 157 H). Saat tiba di Kairo, ia juga bertemu dengan murid-murid Imam al-Laits bin Sa’d (w. 175 H). Keduanya termasuk imam-imam yang keilmuan mereka pernah diakui, tetapi tidak terjaga. Dengan demikian, dapat diprediksikan bahwa di antara faktor yang mendorong Imam asy-Syafi’i untuk merevisi sebagian pendapatnya adalah ilmu baru yang ia peroleh setelah berdiskusi dengan para ulama Syam dan Mesir. Di samping itu, juga situasi dan kondisi Mesir yang berbeda dengan situasi dan kondisi di Irak ataupun Hijaz.   

Ilmu/fiqh Imam asy-Syafi’i pada fase “mazhab baru” ini terhimpun dalam kitabnya al-Umm. Adapun di antara murid-muridnya yang menyebarkan mazhab barunya di Mesir adalah al-Buwaithi (w. 248 H), al-Muzani (w. 264 H), ar-Rabi’ al-Muradi (w. 270 H), ar-Rabi’ al-Jizi (w. 256 H), dan Yunus ash-Shadafi (w. 264 H).  

Di antara karya Imam asy-Syafi’i lainnya ialah ar-Risâlah, Ikhtilâf al-Hadîts, Jimâ’ al-‘Ilm, Ibthâl al-Istihsân, dan Ahkâm al-Qur`ân. Wallahu a’lam.      

Almahira, 08 Februari 2021 M/26 Jumadil Akhir 1442 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *