Artikel

[3] PERKEMBANGAN MAZHAB SYAFI’I

Sejak kewafatan Imam asy-Syafi’i (w. 204 H), usia mazhab Syafi’i sekarang 1442 H adalah 1238 tahun hijriah. Untuk mempermudah dalam memahami perkembangan mazhab Syafi’i, akan lebih baik bila dibuatkan jenjang sejarahnya.

  1. Kemunculan dan penukilan fiqh Imam asy-Syafi’i (195-270 H).  
  2. Kemunculan dan kemapanan mazhab Syafi’i (270-505 H).
  3. Pengeditan pertama mazhab Syafi’i (505-676 H).
  4. Pengeditan kedua mazhab Syafi’i (676-1004 H).
  5. Penyempurnaan editan pertama dan kedua (1004-1335 H).
  6. Studi kontemporer-komparasi mazhab Syafi’i (1335 H-sekarang).

***

Pertama, kemunculan dan penukilan fiqh Imam asy-Syafi’i (195-270 H). Jenjang ini mencakup kemunculan mazhab lama (195-199 H) dan mazhab baru (199-204 H), serta proses penukilan mazhab baru oleh murid-murid Imam asy-Syafi’i di Mesir. Ar-Rabi’ al-Muradi merupakan muridnya yang terakhir wafat, yaitu tahun 270 H.  

Kedua, kemunculan dan kemapanan mazhab Syafi’i (270-505 H). Pada jenjang ini, fiqh Imam asy-Syafi’i sebagai ilmu mulai bertransformasi sebagai mazhab. Dari Mesir, mazhab Syafi’i pun kian tersebar ke berbagai wilayah sampai ke Transoxiana. Tak dapat dipungkiri, bahwa jabatan seseorang memiliki pengaruh terhadap masyarakat di lingkungannya. Pada jenjang ini, banyak ulama mazhab Syafi’i yang diangkat menjadi hakim, sehingga—sedikit banyak—membantu dalam penyebaran mazhab yang mereka ikuti. Di samping itu, juga adanya para penguasa ataupun pembesar yang menjadi pengikut mazhab Syafi’i, seperti Khalifah al-Qadir Billah (w. 422 H), Wazir Nizhamul Mulk (w. 485 H), dan Sultan Syamsul Mulk (w. 492 H).   

Pada jenjang ini, muncul 2 metode penulisan fiqh dalam mazhab Syafi’i: metode ulama Irak dan metode ulama Khurasan. Di samping itu, juga muncul metode penulisan ushul fiqh dalam mazhab Syafi’i yang dikenal dengan sebutan “metode ulama kalam”.    

Ketiga, pengeditan pertama mazhab Syafi’i (505-676 H). Ulama yang memiliki peran penting pada jenjang ini adalah ar-Rafi’i (w. 624 H) dan an-Nawawi (w. 676 H). Semakin jauhnya rentang masa dari masa sang imam, perbedaan tempat antarulama, berikut minimnya media cetak dan sarana transportasi, menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya salah nukil. Di sinilah jasa besar ar-Rafi’i dan an-Nawawi. Mereka berdua menyeleksi pendapat-pendapat yang autentik serta muktamad dalam mazhab, lalu menghimpunnya dalam karya-karya keduanya. Apabila terdapat perbedaan pendapat antara keduanya, maka yang diunggulkan—secara umum tapi tidak semua—adalah pendapat an-Nawawi.     

Keempat, pengeditan kedua mazhab Syafi’i (676-1004 H). Ulama yang memiliki peran penting pada jenjang ini adalah Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H) dan Syamsuddin ar-Ramli (w. 1004 H). Mereka berdua meneliti ulang serta menyempurnakan editan ar-Rafi’i dan an-Nawawi, lalu menghimpunnya dalam karya-karya keduanya. Apabila terdapat perbedaan pendapat antara Ibn Hajar al-Haitami dan Syamsuddin ar-Ramli, maka ulama Mesir mengunggulkan pendapat Syamsuddin ar-Ramli, sedangkan ulama Hijaz dan Yaman mengunggulkan pendapat Ibn Hajar al-Haitami.       

Kelima, penyempurnaan editan pertama dan kedua (1004-1335 H). Peran ulama pada jenjang ini lebih cenderung berupa pemberian catatan kaki atau syarah pada kitab-kitab yang ditulis pada jenjang sebelumnya. Pada jenjang ini, mazhab Syafi’i mulai tersebar di bumi Nusantara melalui peran dakwah para ulama Yaman.  

Keenam, studi kontemporer-komparasi mazhab Syafi’i (1335 H-sekarang). Di setiap jenjang sejarah perkembangan mazhab Syafi’i—dapat diprediksi—tidak kosong dari oknum-oknum yang “fanatik buta” dalam bermazhab, baik dari kalangan terpelajar maupun awam. Namun demikian, sikap negatif tersebut tidak lantas layak dijadikan alasan untuk mencela bermazhab. Di antara sebab fanatik buta ialah kurangnya wawasan tentang ilmu syariat secara umum, sehingga timbul asumsi bahwa pendapat mazhabnya-lah yang paling benar.  

Maraknya media cetak dan elektronik, didukung dengan sarana transportasi yang memadahi saat ini, kian mempermudah seorang Muslim terpelajar dalam melakukan studi banding terhadap pendapat-pendapat berbagai mazhab fiqh yang muktabar. Hal itu akan membuka cakrawala berpikirnya. Bahkan—dalam kondisi tertentu—di antara pendapat-pendapat mazhab tersebut justru akan memberikan solusi alternatif tatkala pendapat mazhabnya terasa sulit/berat diamalkan.              

***

Keempat mazhab fiqh yang masih bertahan hingga sekarang ibarat jalan-jalan penghubung yang akan menghantarkan penggunanya ke tempat tujuan dengan aman. Jalan-jalan tersebut telah digunakan dari generasi ke generasi selama berabad-abad. Jika ditemukan kekurangan pada masa satu generasi, maka akan disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Umat Muslim zaman ini boleh mengikuti salah satu di antara 4 mazhab fiqh secara terus-menerus. Boleh juga sesekali mengikuti mazhab lain di antara 4 mazhab itu. Bahkan, boleh juga pindah ke mazhab lain di antara 4 mazhab itu secara terus-menerus. Sebab, keempat mazhab sama-sama muktabar serta terjamin kualitasnya. Wallahu a’lam.       

Almahira, 11 Februari 2021 M/29 Jumadil Akhir 1442 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *