Berita Terbaru

[4] MUKADIMAH FIQH SYAFI’I

“Fiqh” (الفقه) secara bahasa artinya pemahaman. Fiqh secara istilah dibagi menjadi 2 penggunaan:

Pertama, bermakna mengetahui hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf, yang mana hukum-hukum syariat tersebut disimpulkan dari dalil-dalil yang muktabar: al-Qur`an, hadits, ijma’, qiyas, dan lainnya.    

Kedua, bermakna hukum syariat itu sendiri.

Adapun “ilmu fiqh” (علم الفقه) adalah ilmu yang mengkaji hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf, yang mana hukum-hukum syariat tersebut disimpulkan dari dalil-dalil yang muktabar: al-Qur`an, hadits, ijma’, qiyas, dan lainnya.

Mempelajari “fiqh Syafi’i” (الفقه الشافعي) artinya mempelajari hukum-hukum syariat sesuai dengan hasil ijtihad/usaha para ulama mazhab Syafi’i dalam memahami serta menyimpulkan dalil-dalil yang muktabar: al-Qur`an, hadits, ijma’, qiyas, dan lainnya.   

Dalam menyimpulkan suatu hukum, keempat mazhab fiqh sama-sama bersandar pada dalil-dalil yang muktabar. Di antara faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat ialah perbedaan proses memahami serta menyimpulkan suatu dalil. Hal itu wajar dan sudah pernah terjadi pada masa Rasulullah.  

***

Istilah-istilah berikut akan banyak ditemukan dalam pembahasan ilmu fiqh. Oleh sebab itu, sebelum memasuki pembahasan awal fiqh Syafi’i ini, akan lebih baik bila mengetahui maksud istilah-istilah tersebut.      

1. Fardhu (الفرض)

Sesuatu yang diperintahkan oleh syariat untuk dikerjakan dengan perintah yang pasti. Jika dikerjakan maka akan berbuah pahala, dan jika ditinggalkan maka akan berbuah hukuman. Berdasarkan jumlah pelakunya, fardhu dibagi menjadi 2 macam:  

(a) Fardhu ‘ainiyy: sesuatu yang diperintahkan untuk dikerjakan oleh setiap individu mukallaf dengan perintah yang pasti. Jika ia mengerjakannya maka akan berbuah pahala, dan jika ia meninggalkannya maka akan berbuah hukuman. Misalnya shalat 5 waktu dan puasa Ramadhan.   

(b) Fardhu kifâ`iyy: sesuatu yang diperintahkan untuk dikerjakan oleh sekelompok mukallaf dengan perintah yang pasti. Jika sebagian mengerjakannya maka sudah mencukupi, sehingga yang lain pun terbebas dari dosa. Namun, jika tidak seorang pun mengerjakannya maka semua dinilai berdosa. Misalnya mengurus serta menshalati mayat. 

2. Wajib (الواجب)

Dalam mazhab Syafi’i definisi wajib sama dengan fardhu, kecuali dalam pembahasan haji. Sesuatu yang wajib dalam haji, jika ditinggalkan maka tidak akan membatalkan haji—dan cukup dengan membayar denda/fidyah—seperti melempar jamrah dan ihram dari miqat. Adapun sesuatu yang fardhu dalam haji, jika ditinggalkan maka akan membatalkan haji, seperti wuquf di Arafah dan thawaf Ifadhah.

3. Mandub (المندوب)

Sesuatu yang diperintahkan oleh syariat untuk dikerjakan dengan perintah yang tidak pasti. Jika dikerjakan maka akan berbuah pahala, dan jika ditinggalkan maka tidak berbuah hukuman. Disebut juga dengan sunnah, mustahabb, tathawwu’, atau nafl.  

4. Mubah (المباح)

Sesuatu yang tidak diperintahkan oleh syariat untuk dikerjakan ataupun ditinggalkan. Jika dikerjakan maka tidak akan berbuah pahala, dan jika ditinggalkan maka tidak akan berbuah hukuman. Bebas untuk dikerjakan atau ditinggalkan.    

5. Makruh (المكروه)

(a) Makruh tahrîmiyy: sesuatu yang diperintahkan oleh syariat untuk ditinggalkan dengan perintah yang pasti, tapi levelnya masih di bawah haram. Jika ditinggalkan maka akan berbuah pahala, dan jika dikerjakan maka akan berbuah hukuman.  

(b) Makruh tanzîhiyy: sesuatu yang diperintahkan oleh syariat untuk ditinggalkan dengan perintah yang tidak pasti. Jika ditinggalkan maka akan berbuah pahala, dan jika dikerjakan maka tidak akan berbuah hukuman.  

6. Haram (الحرام)

Sesuatu yang diperintahkan oleh syariat untuk ditinggalkan dengan perintah yang pasti. Jika ditinggalkan maka akan berbuah pahala, dan jika dikerjakan maka akan berbuah hukuman.

Istilah-istilah di atas—nomor 1 sampai 6—disebut dengan “hukum taklif” (الحكم التكليفي). Artinya, mayoritas ulama membagi hukum taklif menjadi 5 macam: wajib/fardhu, mandub, mubah, makruh, dan haram.

7. Rukun (الركن)

Sesuatu yang wajib dikerjakan dan termasuk bagian dari suatu amalan. Misalnya membaca surah al-Fatihah dalam shalat. 

8. Syarat (الشرط)

Sesuatu yang wajib dikerjakan dan tidak termasuk bagian dari suatu amalan. Misalnya wudhu sebelum shalat.   

9. Adâ` (الأداء)

Mengerjakan ibadah sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh syariat. Misalnya mengerjakan shalat Subuh di antara fajar shâdiq dan sebelum matahari terbit.  

10. Qadhâ` (القضاء)

Mengerjakan ibadah yang terlewatkan di luar waktu yang ditentukan oleh syariat. Hukum qadha` adalah wajib, baik ibadah terlewatkan karena uzur maupun tanpa uzur. Bedanya, jika ibadah terlewatkan karena uzur maka pelakunya tidak berdosa, sedangkan jika ibadah terlewatkan tanpa uzur maka pelakunya berdosa. Misalnya meng-qadhâ’ shalat Subuh setelah matahari terbit karena bangun kesiangan. 

11. I’âdah (الإعادة)

Mengulangi ibadah masih dalam waktu yang ditentukan oleh syariat, demi meraih pahala tambahan. Misalnya mengulangi shalat Zuhur secara berjamaah, setelah terlanjur mengerjakannya sendirian.

12. Sebab (السبب)

Sesuatu yang kondisi ada dan ketiadaannya berhubungan erat dengan hal lainnya. Syariat menjadikan adanya sebab sebagai indikasi adanya hukum, dan ketiadaan sebab sebagai indikasi ketiadaan hukum. Misalnya tibanya bulan Ramadhan menjadi sebab diwajibkannya puasa Ramadhan.    

13. Mâni’ (المانع)

Sesuatu yang kondisi adanya—bukan ketiadaannya—berhubungan erat dengan hal lainnya. Syariat menjadikan adanya mâni’ sebagai penghalang adanya hukum. Mâni’ bisa menghalangi adanya sebab dan hukum sekaligus, atau hanya menghalangi adanya hukum. Misalnya kasus beda agama dalam pembahasan warisan. Status seorang Muslim sebagai anak kandung merupakan sebab dirinya akan mendapatkan harta warisan dari almarhum ayahnya yang juga Muslim. Namun, jika anak tersebut diketahui telah murtad maka kemurtadannya menjadi mâni’ (baca: penghalang) untuk mendapatkan harta warisan.      

14. ‘Azîmah (العزيمة)

Setiap hukum syariat adalah ‘azîmah yang mencakup 5 hukum taklif: wajib, mandub, mubah, makruh, dan haram. Istilah ‘azîmah—dalam konteks ini—bisa diartikan hukum asli/awal, sebelum berlakunya rukhshah.  

15. Rukhshah (الرخصة)

Sesuatu yang dibolehkan meskipun menyelisihi hukum aslinya, karena adanya uzur. Rukhshah sendiri merupakan hukum yang ditetapkan berdasarkan dalil. Rukhshah ada 4 macam: (a) wajib, seperti memakan bangkai bagi orang yang dalam kondisi terpaksa, (b) mandub, seperti shalat Qashar bagi musafir, (c) mubah, seperti melihat aurat pasien bagi dokter, dan (d) makruh, seperti tidak berpuasa Ramadhan bagi musafir. Istilah rukhshah—dalam konteks ini—bisa diartikan keringanan, yang merupakan bentuk pengecualian dari ‘azîmah.  

16. Sahih (الصحيح)

Suatu hukum syariat yang telah terpenuhi unsur-unsur pelengkapnya: ada sebab, lengkap syarat dan rukunnya, serta tidak ada mâni’-nya. Sehingga diberlakukanlah segala konsekuensinya. Misalnya nikah yang sahih, sehingga diperbolehkanlah bagi kedua pasangan untuk bercumbu mesra. Istilah sahih—dalam konteks ini—bisa diartikan benar/sah.

17. Batil (الباطِل)

Suatu hukum syariat yang tidak sah, sehingga tidak diberlakukanlah segala konsekuensinya. Misalnya nikah yang batil, sehingga tidak diperbolehkanlah bagi kedua pasangan untuk bercumbu mesra. Dalam mazhab Syafi’i, definisi batil sama dengan fasid. Istilah batil atau fasid—dalam konteks ini—bisa diartikan salah/rusak.       

***

Dalam mazhab Syafi’i terdapat istilah-istilah khusus yang baru bisa dipahami setelah diketahui maksudnya. Akan tetapi, karena kajian ini menggunakan bahasa Indonesia, tampaknya tidak perlu kami jelaskan satu persatu. Kami hanya akan menyebutkan beberapa istilah, sebagai contoh dan tambahan maklumat.  

1. Aqwâl (الأقوال)

2. Aujuh (الأوجه)

3. Thuruq (الطرق)

4. Azhhar (الأظهر)

5. Masyhûr (المشهور)

6. Ashhâb (الأصحاب)

7. Ashah (الأصح)

8. Shahîh (الصحيح)

9. Nash (النص)

10. Madzhab (المذهب)

11. Syaikh (الشيخ)

12. Imam (الإمام)

13. Qadhi (القاضي)

Almahira, 16 Februari 2021 M/4 Rajab 1442 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *