Berita Terbaru

[5] BAB THAHARAH

Mukadimah

“Thaharah” (الطهارة) secara bahasa artinya bersuci dari kotoran, baik yang tampak (hissiyy) maupun yang tidak tampak (ma’nawiyy). Kotoran yang tampak seperti najis jasmani: tinja, air kencing, dsb. Kotoran yang tidak tampak seperti aib rohani: hasad, sombong, dsb.  

Thaharah secara istilah artinya suatu amalan (baca: bersuci) yang dengannya dibolehkan mengerjakan shalat, thawaf, atau ibadah lainnya. Misalnya wudhu bagi orang yang berhadats kecil, mandi bagi orang yang berhadats besar, membersihkan najis dari pakaian, badan, atau tempat.   

Di antara hikmah thaharah ialah dapat membantu dalam menjaga kebersihan, kesehatan, dan kebugaran badan.

Sub-Bab 1: Air   

Air yang dapat digunakan untuk bersuci adalah air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, dan air salju. Semua itu terangkum dalam: air yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi. Dalilnya,

{وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً}. [الفرقان: 48]

{وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّن السَّمَاء مَاء لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ}. [الأنفال: 11]

روى أبو هريرة رضي الله عنه قال: سأل رجل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يَا رَسولَ اللهِ، إنَّا نَرْكَبُ البَحْرَ، وَنَحمِلُ مَعَنا القَليلَ مِنَ المَاءِ، فَإنْ تَوَضَّأْنا بهِ عَطِشْنَا، أَفَتَوَضَّأُ بِماءِ البَحْرِ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «هُوَ الطَّهُورُ ماُؤهُ الحِلُّ مَيتَتُهُ». [رواه الخمسة، وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح]

Air—dalam konteks ini—dibagi menjadi 3 macam:

1. Air suci yang mensucikan (طاهر مطهر).

2. Air suci yang tidak mensucikan (طاهر غير مطهر).

3. Air najis (متنجس). 

***

1. Air suci yang mensucikan (طاهر مطهر).

Disebut juga dengan “air mutlak” (الماء المطلق), yaitu air yang kondisinya masih alami seperti penciptaan awalnya, baik tawar maupun asin. Syaratnya kondisi air—dari segi warna, bau, ataupun rasa—tidak berubah karena pengaruh benda asing, baik cair maupun padat. Tidak pula—jika air tidak mengalir atau jumlahnya sedikit—bekas digunakan untuk wudhu, mandi, atau membersihkan najis (baca: bekas celupan atau cipratan).

Ada beberapa hal yang dapat merubah kondisi air ini, tetapi tidak membatalkan fungsi asalnya, yakni mensucikan. Misalnya berubah karena lama berdiam di tempatnya, berubah karena pengaruh pasir, berubah karena pengaruh lumut, atau berubah karena medan yang dilewati mengandung belerang. Semua itu adalah pengecualian, karena merupakan perubahan alami yang memang sulit untuk dihindari. Alhasil, air jenis pertama ini suci serta dapat digunakan untuk bersuci dan menghilangkan najis. Dalilnya,   

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قام أعرابي فبال في المسجد، فقام إليه الناس ليقعوا به، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «دَعُوهُ، وَهَريقُوا عَلى بَولِهِ سَجْلاً مِنْ ماءٍ—أَوْ ذَنُوباً مِنْ ماءٍ—فَإنَّما بُعُثُتْم مُسَيِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ». [رواه البخاري وغيره] فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بإراقة الماء على مكان البول دليل أنه فيه خاصية التطهير.

Dalam kategori ini, ada istilah “air suci yang mensucikan, tapi makruh” (طاهر مطهر مكروه). Yaitu air dalam wadah berbahan logam—selain emas dan perak—yang dipanaskan di bawah terik matahari. Mayoritas ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa air ini makruh digunakan untuk bersuci, karena dapat mengganggu kesehatan kulit.[1] Terik matahari dapat memisahkan unsur-unsur negatif tertentu dari logam, sehingga mengapung di atas permukaan air. Jika mengenai kulit, maka akan mengakibatkan kusta. Namun, an-Nawawi (w. 676 H) menafikan hal itu. Ia berpendapat bahwa air ini tidaklah makruh, sembari menilai lemah dalil-dalil—kisah Aisyah dan Umar—yang dijadikan sandaran untuk memakruhkan.  

Adapun air yang dipanaskan selain dengan terik matahari, maka semua ulama mazhab Syafi’i bersepakat tidak memakruhkannya.      

2. Air suci yang tidak mensucikan (طاهر غير مطهر).

(a) Air sedikit yang bekas digunakan untuk bersuci dari hadats (baca: bekas celupan atau cipratan), seperti wudhu atau mandi. Standar sedikit adalah kurang dari 2 qullah atau sekitar 200 kg. Dalil bahwa air ini suci,

عن جابر بن عبدالله رضي الله عنهما قال: جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم يعودني وأنا مريض لا أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ مِنْ وَضوئِهِ عَلي. [رواه البخاري ومسلم]

Dalil bahwa air ini tidak mensucikan,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لاَ يَغْتَسِلْ أَحدُكُمْ في المَاءِ الدَّاثِمِ—أي الراكد—وَهُوَ جُنُب». فقالوا: يا أبا هريرة، كيف نفعل؟ قال: يتناوله تناولاً. [رواه مسلم وغيره]

(b) Air mutlak yang bercampur dengan benda suci, baik padat maupun cair, dan tidak mungkin bisa dipisahkan, sehingga tidak lagi disebut air mutlak. Misalnya bercampur dengan teh, kopi, sirup, dsb.     

(c) Cairan lain seperti khall dan nabîdz. Khall adalah cuka yang terbuat dari buah-buahan (baca: vinegar). Adapun nabîdz adalah minuman hasil campuran air dan buah-buahan (baca: infused water). Bukan nabîdz khamr yang memabukkan (baca: wine).

Air jenis kedua ini suci, tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci dan menghilangkan najis.     

3. Air najis (متنجس).  

Yaitu air yang bercampur dengan benda najis, baik padat maupun cair. Asalnya, air adalah suci. Namun, setelah bercampur dengan benda najis yang merubah warna, bau, atau rasanya maka menjadi najis. Dalilnya,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ». [رواه ابن ماجه]

An-Nawawi (w. 676 H) berpendapat bahwa hadits ini tidak dapat dijadikan hujah. Sebagai gantinya, maka dalilnya adalah ijma’. Adapun jika warna, bau, atau rasa air tidak berubah, maka dibedakan menjadi 2 macam:  

(a) Air sedikit. Jika bercampur dengan benda najis—meskipun warna, bau, atau rasanya tidak berubah—maka menjadi najis. Dalilnya,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَومِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ في الإنَاءِ حَتَّى يَغْسلها ثَلاَثاً فَإنَّهُ لاَ يدْرِي أَيْنَ بَاَتت يدُهُ». [رواه مسلم]   

(b) Air banyak. Jika bercampur dengan benda najis—tetapi warna, bau, atau rasanya tidak berubah—maka tidak najis. Standar banyak adalah minimal 2 qullah atau sekitar 200 kg. Dalilnya,

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يسأل عن الماء يكون بالفلاة من الأرض، وما ينوبه من السباع والدواب، فقال: «إذَا كَانَ الماءُ قلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَث». [رواه الخمسة]  وفي لفظ أبي داود: «فَإَّنهُ لا يَنْجُسُ». 

Air najis tidak dapat digunakan untuk bersuci dan menghilangkan najis. Jika najisnya hilang dengan sendiri, maka menjadi suci. Sementara jika najisnya hilang karena bantuan benda lain, seperti pasir atau kapur, maka tetap najis. Wallahu a’lam.   

Almahira, 18 Februari 2021 M/6 Rajab 1442 H


[1] Air ini makruh jika syarat-syaratnya terpenuhi: (a) berada di lokasi yang panas, (b) diletakkan di wadah berbahan logam yang bisa ditempa, selain emas atau perak, (c) digunakan untuk badan manusia atau binatang yang bisa terkena kusta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *