Berita Terbaru

[6] BAB THAHARAH

Sub-Bab 2: Najis

“Najis” (النجاسة) secara bahasa artinya setiap sesuatu yang kotor. Najis secara istilah artinya kotoran yang menghalangi sahnya shalat, seperti darah atau air kencing.  

Jika benda najis mengenai badan, pakaian, atau tempat yang akan berpengaruh terhadap sahnya shalat—atau ibadah lainnya—maka wajib dibersihkan terlebih dahulu. Di antara benda-benda najis tersebut adalah:    

1. Khamr dan setiap cairan yang memabukkan.[1] Adapun yang padat maka tidak najis. Dalilnya,

{إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ…} أي نجس. [المائدة: 90]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ». [رواه مسلم، عن أبن عمر رضي الله عنهما]

2. Anjing dan babi. Dalilnya,[2]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ». [رواه مسلم]

3. Bangkai. Yaitu setiap binatang yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Termasuk dalam kategori ini adalah binatang yang disembelih untuk berhala (baca: sesajen) dan yang disembelih dengan disebutkan nama selain Allah.[3] Dalilnya,

{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ…}. [المائدة: 3]  

Sebagai pengecualian ialah mayat manusia serta bangkai ikan—termasuk semua binatang yang hanya hidup di air—belalang, dan binatang yang tidak memiliki darah. Dalilnya,

{وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ…}. [الإسراء: 70] ومقتضى تكريمه أن يكون الإنسان طاهراً حياً وميتاً.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سبحان الله إن المسلم لا ينجس». [رواه البخاري]

قال ابن عباس رضي الله عنهما: «المسلم لا ينجس حياً وميتاً». [رواه البخاري]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أحلت لكم ميتتان ودمّان، فأما الميتتان فالحوت والجراد، وأما الدمان فالكبد والطحال». [رواه ابن ماجه]

4. Darah yang mengalir. Termasuk dalam kategori ini adalah nanah dan cairan bisul yang warnanya telah keruh. Dalilnya,

{أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ…}. [الأنعام: 145]

Sebagai pengecualian ialah hati dan limpa. Dalilnya,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ، فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ، فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ». [رواه ابن ماجه]

5. Fases/tinja dan air kencing manusia ataupun binatang. Termasuk dalam kategori ini adalah madzi, wadi, dan muntahan.[4] Dalilnya,  

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قام أعرابي فبال في المسجد، فقام إليه الناس ليقعوا به، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «دَعُوهُ، وَهَريقُوا عَلى بَولِهِ سَجْلاً مِنْ ماءٍ—أَوْ ذَنُوباً مِنْ ماءٍ—فَإنَّما بُعُثُتْم مُسَيِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ». [رواه البخاري وغيره] والأمر بصب الماء عليه دليل نجاسته.

6. Bagian yang terpisah dari badan binatang hidup. Dalilnya,   

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما قطع من بهيمة فهو ميتة». [رواه الحاكم وصححه]  

Sebagai pengecualian ialah air susu, rambut, dan bulu binatang yang dagingnya halal dimakan.[5] Dalilnya,

{…وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ}. [سورة النحل: 80]     

***

Berdasarkan kondisinya, najis dibagi menjadi 2 macam:

1. Najis ‘ainiyy (النجاسة العينية): najis yang memiliki bentuk atau sifat—yakni warna atau bau—yang tampak. Misalnya tinja, air kencing, dan darah.    

2. Najis hukmiyy (النجاسة الحكمية): najis yang telah mengering dan tidak berbekas, baik warna maupun baunya. Misalnya air kencing yang mengenai kain dan telah mengering serta tidak berbekas.        

Adapun berdasarkan konsekuensi cara membersihkannya, najis dibagi menjadi 3 macam:

1. Najis berat (النجاسة المغلطة). Yaitu najis berupa anjing dan babi. Cara membersihkannya ialah mencucinya dengan air mutlak sebanyak 7 kali dan salah satunya dicampur dengan debu suci. Jika najis ini—termasuk air liur, air kencing, fases, keringat, darah, atau maninya—mengenai badan, pakaian, atau tempat maka harus dibersihkan, baik kondisinya ‘ainiyy maupun hukmiyy. Dalilnya,    

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ». [رواه مسلم]

2. Najis ringan (النجاسة المخففة). Yaitu najis berupa air kencing bayi laki-laki yang belum berusia 2 tahun dan hanya mengonsumsi air susu alami. Cara membersihkannya ialah memercikinya dengan air mutlak, tanpa harus mengalir. Jika najis ini mengenai badan, pakaian, atau tempat maka harus dibersihkan, baik kondisinya ‘ainiyy maupun hukmiyy. Dalilnya,     

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ، أَنَّهَا «أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ، لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ، إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجْرِهِ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ». [رواه البخاري ومسلم وغيرهما] 

3. Najis sedang (النجاسة المتوسطة). Yaitu najis selain anjing dan babi, serta selain air kencing bayi laki-laki yang belum berusia 2 tahun dan hanya mengonsumsi air susu alami. Misalnya tinja, air kencing, dan madzi. Cara membersihkannya ialah mencucinya dengan air mutlak sampai bersih. Tidak cukup diperciki saja dan—bila sudah bersih—tidak wajib dicuci berulang kali. Jika najis ini mengenai badan, pakaian, atau tempat maka harus dibersihkan, baik kondisinya ‘ainiyy maupun hukmiyy. Dalilnya,        

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ، أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فَيَغْسِلُ بِهِ. [رواه البخاري]

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ المِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: «فِيهِ الوُضُوءُ». [رواه البخاري ومسلم] ولمسلم: «يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ». 

Cara membersihkan ketiga macam najis di atas tidaklah cukup hanya dengan air sabun. Tapi harus tetap dibilas dengan air mutlak. Sebab, air sabun termasuk kategori “air suci yang tidak mensucikan” (طاهر غير مطهر) jenis (b).[6] Wajib menghilangkan rasa najis, meskipun sulit, karena keberadaannya menunjukkan bahwa najisnya masih ada. Wajib pula menghilangkan warna dan baunya sebisa mungkin. Tidak mengapa menyisakan sedikit warna—seperti darah—atau sedikit bau—seperti khamr—jika memang sulit. Namun, jika masing-masing dari warna dan bau masih ada maka bagian tersebut dianggap belum suci.

Syariat Islam memberikan rukhshah/dispensasi berkaitan dengan sebagian najis, karena memang sulit untuk dihindari. Di antaranya:

1. Cipratan air kencing yang sedikit.

2. Darah atau nanah yang sedikit, selama tanpa disengaja. Juga darah atau nanah luka yang cukup banyak, selama milik sendiri, tanpa disengaja, dan tidak melebihi batas kewajaran.    

3. Air kencing atau fases/tinja binatang—yang sedikit—yang mengenai air susunya saat diperah.

4. Fases ikan yang tidak sampai merubah kondisi air, serta fases burung di lokasi keberadaannya.

5. Darah sedikit yang mengenai tukang jagal dan sisa darah yang menempel pada daging.

6. Sisa muntahan pada mulut bayi yang menempel di payudara ibunya, serta air liur yang keluar dari lambung saat tidur khusus bagi penderitanya.   

7. Cipratan lumpur di jalanan.

8. Bangkai binatang yang tidak memiliki darah ketika masuk ke air, seperti lalat, nyamuk, ulat buah, atau semut. Dengan syarat, hewan tersebut masuk dengan sendirinya dan tidak merubah kondisi air. Dalilnya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِي الآخَرِ دَاءً». [رواه البخاري]

Seandainya lalat menjadikan air najis, tentu Rasulullah tidak akan menyuruh untuk mencelupkannya. Adapun binatang-binatang serupa lainnya—yang tidak memiliki darah—diqiyaskan dengan lalat yang tersebut dalam redaksi hadits. Wallahu a’lam.       

Almahira, 22 Februari 2021 M/10 Rajab 1442 H


[1] Khamr yang berubah menjadi khall dengan sendirinya adalah suci. Adapun jika ditambahkan bahan lain untuk menjadikannya khall maka tetaplah najis.   

[2] Hadits ini hanya menyebutkan anjing. Adapun babi adalah hasil qiyas dari anjing, karena kondisinya lebih buruk. Haram memelihara keduanya, kecuali anjing untuk keperluan menjaga kebun atau binatang ternak, atau untuk keperluan berburu. Dalilnya,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنِ اتَّخَذَ كَلْباً إِلاَّ كَلْبَ زَرْعٍ أوْ غَنَمٍ أوْ صَيْدٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ». [رواه مسلم]

[3] Kulit dari bangkai binatang—selain anjing dan babi—boleh diawetkan dengan cara disamak (dibâgh), sehingga statusnya tidak najis lagi dan bisa dimanfaatkan. Namun, bagian di atas kulit yang telah disamak, seperti rambut dan bulu, tetap najis. Kulit yang telah disamak harus dicuci dengan air mutlak agar terbebas dari unsur-unsur najis. Dalilnya, 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا دبغ الإهاب فقد طهر». [رواه مسلم]

[4] Air yang keluar dari mulut saat tidur bila warnanya telah berubah (baca: tidak bening) adalah najis.   

[5] Adapun air susu binatang yang dagingnya haram dimakan, seperti keledai dan lainnya, adalah najis. Sebab, air susunya dinilai sama dengan dagingnya yang najis.    

[6] Air limpahan/bekas cucian najis adalah suci bila objek najis telah hilang.   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *